Nilai-Nilai Pendidikan dan Sosial dalam Permainan Panggalan
Sudah lebih dari setahun permainan panggalan tradisional terus dimainkan di dusun kami. Di setiap lahan-lahan kosong di tengah kampung, selalu ada saja yang memanfaatkannya menjadi arena panggalan. Kebetulan sekali, permainan tradisional ini membutuhkan lahan yang memang luas dan memiliki tekstur tanah yang keras agar kekean bisa berputar. Jika dipikir-pikir kembali, ternyata memang sebetulnya ini menjadi salah satu faktor kenapa anak-anak tidak ada yang memainkan permainan tradisional. Selain anak-anak tidak ada yang mengenalkan, juga karena lahan kosong semakin tergerus oleh pemukiman. Anak-anak tidak memiliki ruang gerak yang cukup, padahal energi yang harus mereka keluarkan cukup besar.

Melatih Kejujuran, Ketangkasan dan Sporitivitas
Setelah permainan tradisional panggalan dimainkan, ternyata membawa banyak manfaat yang bisa dirasakan oleh anak-anak dan para orangtua. Ada begitu banyak nilai-nilai pendidikan dalam permainan panggalan. Panggalan harus dimainkan secara berkelompok, 3-6 orang. Dengan begitu, menuntut panggalan untuk terus bekerja sama dan sportif. Nilai kejujuran juga harus menjadi pengendali permainan panggalan. Pemain harus bisa memecahkan lawan dalam seri kompetisi breng-brengan. Breng-brengan adalah jenis permainan yang harus bisa memecahkan kekean lawan, meski secuil tetap menjadi sebuah prestasi bagi pemecah. Di sini, kejujuran ditantang. Jika kekeannya kena panggal lawan meski kecil dan setitik, harus jujur kepada pemain yang lain agar bisa pemecah mendapatkan poin, bukan malah disembunyikan alih-alih untuk mengurangi poin lawan.
Membangun dan Menguatkan Karakter Anak
Selain itu, permainan panggalan juga sangat membentuk karakter anak. Misalnya, anak yang pemalu, pada akhirnya berani tampil dalam turnamen dan semakin percaya diri disaksikan ratusan mata yang melihat. Banyak sekali anak yang tidak percaya diri untuk tampil di depan orang banyak. Tapi dengan turnamen panggalan, akhirnya mental tersebut perlahan terbangun dan anak semakin berani tampil bahkan berbicara di depan banyak orang.
Lepas dari Ketergantungan Gadget
Nilai selanjutnya adalah, anak berhenti bermain gadget. Meski tidak sepenuhnya berhenti, tapi mari kita hitung. Anak-anak pulang sekolah sudah bermain panggalan. Kemudian dilanjutkan mengaji, dan setelah magrib kembali bermain panggalan. Usai bermain panggalan biasanya berkisar antara pukul 8-9 malam. Di waktu istirahat tersebut anak-anak baru memegang gadget. Hanya sekitar 10-30 menit kemudian tertidur. Ada banyak sekali orangtua yang menyampaikan kebahagiaannya karena anak-anak sudah mulai tidak ketergantungan sama gadget.

Membangun Bonding Ayah dan Anak
Selanjutnya adalah adanya bonding antara orangtua dan anak laki-lakinya. Selama ini, banyak ayah yang kurang dekat dengan anak laki-lakinya di kampung kami. Jarang ada interaksi yang intens antara bapak dan anak. Tapi sejak adanya panggalan, anak-anak yang bermain panggalan, juga ternyata bisa menarik ayahnya untuk ikut serta bermain panggalan. Begitu pula sebalikny. Dampak positifnya, anak dan bapak saling berkomunikasi secara intens untuk menentukan kayu yang tepat, menentukan jenis dan bentuk kekean yang baik, serta saling mendukung saat turnamen karena turnamen selalu diselenggarakan dengan kategori dewasa dan anak-anak. Akhirnya bonding antara anak dan ayah semakin terikat.
Meningkatkan Interaksi Anak dengan Sebaya
Panggalan membuat anak yang semula penyendiri, jadi mau berinteraksi dengan sesama temannya. Sebelum ada panggalan, banyak orang tua yang mengeluhkan anak-anaknya yang sepulang sekolah langsung masuk ke kamar dan sibuk dengan gadgetnya. Tidak pernah mau berinteraksi di luar rumah. Tapi dengan panggalan, anak-anak tersebut akhirnya malah lebih suka berada di luar rumah bahkan keliling kampung untuk mencari lawan. Betapa senangnya melihat di sisi-sisi kampung, anak-anak berjalan kaki menenteng kekean mencari lawan.
Memenuhi Kebutuhan Validasi Anak
Panggalan juga memiliki relevansi dengan pendidikan di sekolah. Dunia anak-anak adalah dunia yang haus validasi. Di sekolah, anak-anak yang secara akademis mampu menjadi juara tentu bisa mendapatkan validasi dari peringkat 1-10 besar di kelas. Tapi untuk anak-anak yang tidak memiliki kemampuan akademis yang cukup bagus, maka di arena panggalan mereka bisa meraih itu. Anak-anak juga akan sangat bangga jika bisa menjuarai turnamen. Mereka tidak perlu mengejar validasi dari nilai rapor, tapi bisa mengejarnya di arena panggalan dengan terus berlatih. Melatih skill, ketangkasan, kelincahan, dan titik fokus untuk bisa jadi juara.
Lepas dari Narkoba
Paling membahagiakan dari itu semua, ada satu titik yang membuat kami sangat tersentuh. Kebetulan desa kami adalah zona merah narkoba. Kami sudah beberapa kali memikirkan bagaimana agar narkoba tidak merenggut masa depan anak-anak kami nanti. Tiba-tiba, beberapa minggu lalu, ada pengakuan dari salah satu pengedar ia siap dites urin. Ternyata sejak ada panggalan, si pengedar di desa kami dan seluruh jaringannya sudah berhenti mengedarkan bahkan tidak lagi mengonsumsi narkoba sejak mereka bermain panggalan. Memang sedari awal, banyak anak-anak yang terindikasi pemakai mendaftar panggalan. Mereka yang semula malu-malu bertemu dan menatap wajah orang lain, kini semakin percaya diri dan merasa bebas dari barang haram tersebut. Tidak cuma satu anak, pemakain yang masuk dalam jaringannya juga banyak yang sudah berhenti. Kami terharu mendengar pengakuannya. Tidak menyangka panggalan akan memberi dampak yang sedemikian luas.
Untuk bisa melihat lebih banyak aktivitas anak-anak bermain panggalan di kampung kami, kamu bisa lihat dokumentasi kami di sini.