Perkembangan teknologi digital membawa perubahan besar dalam kehidupan anak-anak di wilayah lereng utara Gunung Penanggungan. Gawai yang awalnya hadir sebagai sarana hiburan dan pembelajaran perlahan menjadi bagian yang sulit dipisahkan dari keseharian mereka. Anak-anak lebih sering menghabiskan waktu dengan layar, sementara ruang bermain tradisional mulai ditinggalkan.
Keresahan mulai dirasakan oleh para orang tua dan tokoh masyarakat. Anak-anak terlihat kurang berinteraksi secara langsung, jarang bergerak aktif, dan semakin asing dengan permainan tradisional yang dahulu menjadi bagian penting dari kehidupan desa. Situasi ini semakin mengkhawatirkan ketika sebagian remaja mulai menunjukkan tanda-tanda kecanduan gim daring dan bahkan judi online. Aktivitas tersebut tidak hanya menghabiskan waktu, tetapi juga berpotensi merusak masa depan generasi muda di lereng utara Penanggungan.
Berangkat dari kegelisahan tersebut, muncul sebuah gagasan sederhana namun bermakna: menghadirkan kembali permainan tradisional sebagai bentuk pengalihan yang positif, mendidik, dan menyenangkan. Salah satu permainan yang kemudian dipilih adalah panggalan, permainan rakyat yang dahulu pernah hidup di tengah masyarakat namun mulai dilupakan.
Langkah awal dimulai dengan mengajak beberapa warga untuk kembali membuat kekean dan uwet, dua instrumen utama dalam permainan panggalan. Proses pembuatannya dilakukan secara gotong royong, melibatkan orang-orang tua yang masih mengingat bentuk dan cara penggunaannya. Aktivitas ini bukan hanya menghasilkan alat permainan, tetapi juga menjadi ruang berbagi cerita lintas generasi.
Setelah instrumen siap, permainan panggalan mulai dimainkan bersama warga. Lapangan desa kembali dipenuhi tawa, sorak semangat, dan interaksi sosial yang hangat. Anak-anak yang awalnya hanya menonton perlahan ikut mencoba. Mereka dikenalkan pada aturan permainan, nilai sportivitas, kerja sama, serta kegembiraan bermain tanpa layar.
Upaya pelestarian ini tidak berhenti pada pengenalan semata. Untuk menjaga semangat dan keberlanjutan, masyarakat kemudian menggagas turnamen panggalan yang diselenggarakan secara rutin selama satu tahun berturut-turut. Turnamen ini menjadi agenda desa yang dinanti, melibatkan anak-anak, remaja, bahkan orang dewasa. Perlahan, panggalan kembali menemukan tempatnya dalam kehidupan masyarakat.
Kini, permainan panggalan terus dimainkan oleh anak-anak dan juga para orang dewasa di Desa Wotanmas Jedong, sebuah desa yang terletak di lereng utara Penanggungan. Panggalan bukan sekadar permainan, melainkan simbol perlawanan terhadap dampak negatif digitalisasi yang berlebihan, sekaligus wujud nyata pelestarian budaya lokal.
Perjalanan panjang ini membuktikan bahwa dengan kebersamaan, kepedulian, dan kreativitas, permainan tradisional dapat kembali hidup dan menjadi sarana pembentukan karakter generasi muda yang sehat, berbudaya, dan berakar pada kearifan lokal.
