Dari Panggalan jadi Sumber Cuan untuk Masyarakat
Sesuatu yang kita lakukan dengan tulus, kembalinya tentu akan memberikan manfaat yang lebih luas. Itu adalah kalimat yang biasa digaungkan di Astana Jabal Sirr. Kita ngga pernah tahu bentuk ketulusan itu seperti apa. Kita mungkin tidak akan pernah bisa menjangkau titik tulus itu sendiri. Sebab kelemahan kita sebagai manusia, yang penuh dengan kesalahan baik salah dengan diri sendiri maupun dengan orang lain. Yang bisa kita lakukan sebagai manusia hanyalah berbuat dan berbuat, ngga pernah menyerah untuk memberi, tanpa perlu tahu apa yang sudah kita lakukan tulus atau tidak. Bukan hak kita untuk mengukur seberapa jauh kita tulus atau tidak. Terpenting sesaui yang disabdakan dalam Alquran, siapa yang menanam ia akan memanen.
Begitu pula dalam upaya pengenalan dan pelestarian permainan tradisional ini. Kami hanya perlu untuk terus bergerak. Hasilnya bagaimana, kami tidak pernah tau, bahkan menduga-duga. Kami hanya terus berjalan, melakukan apa yang harus kami lakukan. Dalam upaya pelestarian ini, ternyata ada manfaat yang bisa kami lihat, salah satu dari sekian banyak manfaat adalah adanya perputaran ekonomi.
Panggalan yang memang membutuhkan kekean dan uwet dalam permainannya, tentu membutuhkan sumber daya kayu dan keterampilan dari orang-orang yang kreatif yang bisa membuat. Ketika panggalan terus dimainkan, maka kekean akan terus diproduksi.

Salah satunya adalah Pak Suyono, salah satu karyawan yang berhasil melihat peluang dari panggalan ini. Karena kekreatifannya, ia akhirnya merakit mesin bubut dan mulai memainkan keahliannya untuk membuat kekean. Permintaan demi permintaan berdatangan, sampai banjir orderan. Sehari, Pak Suyono bisa membuat antara 10-30 kekean yang bisa habis terjual hari itu juga. Bila harga kekean Rp20.000, maka sudah pasti omzet yang bisa didapat sekitar Rp200.000-600.000 per hari.
Selain Pak Suyono, masih ada Pak Sulaiman dan Pak Paenu yang membuat kekean dengan cara manual. Sama seperti Pak Suyono, mereka berdua juga mendapat order pembuatan kekean beraneka bentuk setiap harinya.
Tidak hanya para pengrajin, yang memiliki keterampilan dalam tali temali juga membuat uwet, salat pemutar kekean dari pelepah batang waru dan rafia, atau bahkan dengan tali tambang. Salah satu pengrajin yang membuat uwet adalah Pak Mukidi. Berbeda dari kekean, uwet memiliki harga Rp15.000.
Selain membuat uwet, tak kalah, seiring dengan kekean yang terus beinovasi, para pengecat juga mulai membuka jasa cat dan lukis kekean. Setiap hari bisa melayani anak-anak yang mengecat dan melukiskan kekeannya.
Untuk warga yang tidak bisa ambil alih di sana karena tidak memiliki keterampilan, ada juga yang menyuplai bahan baku kekean. Mencari galih kayu terbaik di hutan dan dijual kepada pengrajin kekean.
Perputaran ini terus berlanjut tidak hanya sampai di situ. Warung-warung di sekitar arena panggalan juga terciprat rejeki. Warung jadi semakin ramai dan laris manis. Belum lagi jika ada turnamen yang diselenggarakan di sekitarnya, omzet mereka akan terus berlipat.
Dari hal kecil ini, kami turut berbahagia. Setidaknya, dari apa yang kami tanam, kami sudah memanen kebahagiaan demi kebahagiaan dari orang-orang yang bisa memanfaatkan momen dengan adanya pelestarian kembali permainan tradisional panggalan.