Sudah berjarak lebih dari lima kilometer, tetapi riuhnya masih terdengar.

Dag-dig-dug.
Bergemuruh.
Sound horeg.
Ia kini menjadi dua sisi yang terus berhadapan dalam perdebatan. Bagi sebagian masyarakat, sound horeg adalah hiburan rakyat, ruang berkumpul, penggerak ekonomi, dan momentum yang dinanti-nantikan. Namun bagi sebagian lainnya, ia adalah suara yang datang tanpa permisi, masuk melalui celah-celah rumah, merambat ke dinding, mengusik tidur, bahkan membawa kecemasan.
Dari kejauhan, suara itu terdengar seperti dentuman yang tidak berkesudahan. Lampu-lampu beam warna-warni menari di langit malam, menyibak gelap dan menggantinya dengan gemerlap. Masyarakat berbondong-bondong datang, mendekat, berkumpul, dan menikmati apa yang disebut sebagai hiburan rakyat.
Dulu, sound horeg identik dengan perayaan tujuh belas Agustus. Ia menjadi bagian dari kemeriahan tahunan, sebuah hiburan sederhana untuk merayakan kemerdekaan. Namun kini, pergelarannya seakan tidak lagi mengenal kalender. Agustus telah berlalu, tetapi suara itu masih berpindah dari satu desa ke desa lainnya. Hari ini di desa A. Besok di desa B. Lusa di desa C. Seolah-olah setiap desa harus memiliki panggungnya sendiri untuk membuktikan bahwa mereka tidak kalah meriah dari desa tetangga.
Bagi para pengusaha sound horeg, tentu ini adalah berkah. Ketika sebuah sound suaranya dianggap “layak” oleh masyarakat, jadwal penyewaan segera penuh. Booking mengular berbulan-bulan. Bahkan untuk pertunjukan tahun depan, nomor antreannya sudah dipesan tahun ini.
Dari sisi ekonomi, UMKM berjalan. Pedagang mendapatkan pembeli. Pekerja mendapatkan penghasilan. Pengusaha sound mendapatkan keuntungan. Tetapi kehidupan tidak pernah sesederhana angka-angka ekonomi. Sebab di balik keramaian itu, ada rumah-rumah yang ingin tidur. Ada bayi yang sedang terlelap. Ada orang tua yang tubuhnya membutuhkan istirahat. Ada orang sakit yang membutuhkan ketenangan. Ada anak-anak yang harus belajar. Ada pekerja yang esok pagi harus kembali mencari nafkah. Dan ada manusia-manusia yang mungkin tidak pernah diberi pilihan untuk ikut menikmati atau menerima gangguan.
Apakah 100% masyarakat desa yang menggelar acara tersebut bisa turut menikmati? Ataukah hanya sebagian saja yang menjadi penikmat? Oh tentu saja, yang tak setuju dengan ekstistensi sound horeg harus tetap dikalahkan hanya demi memenuhi nafsu gengsi ‘generasi’ yang melangitkan sound horeg. Tak peduli siapa yang terganggu, hiburan rakyat harus tetap jalan demi harga diri desa yang tak mau kalah. Sebab ini ajang gengsi agar desa tak dianggap ‘miskin’, yang bisa juga mendatangkan sound horeg dengan harga sewa 50-150 juta itu.
Dulu, suara itu masih terasa ramah di telinga. Kini frekuensinya seakan berlomba menembus batas. Dari sekitar 85 dB yang masih dapat ditoleransi dalam kondisi tertentu, suara kini digenjot lagi hingga mencapai angka yang sangat tinggi, bahkan diklaim menembus 130 dB, di luar batas kemampuan tubuh manusia menurut WHO.
Lalu suara setinggi itu sebenarnya sedang memuaskan siapa? Manusia? Telinga manusia jelas memiliki batas. Lingkungan pun memiliki batas. Rumah, tanah dan tubuh kita memiliki batas. Jangan-jangan, kita sedang menyebut sesuatu sebagai “kenikmatan” hanya karena kita terbiasa melihatnya, sementara tubuh kita diam-diam sedang menerima dampaknya.
Dulu, hiburan rakyat berarti sesuatu yang murah, sederhana, dekat, dan dapat dinikmati hampir semua kalangan. Kini, hiburan rakyat mulai memiliki angka. Bahkan angka dengan nol yang tidak sedikit. Ada iuran. Ada biaya sewa. Ada target. Ada gengsi. Desa yang satu tidak ingin kalah dari desa yang lain. Sound yang satu harus lebih besar dari sound sebelumnya. Yang kemarin dianggap luar biasa, hari ini dianggap biasa saja. Harga sewa puluhan juta bahkan ratusan juta rupiah bukan lagi sesuatu yang terdengar mustahil. Namun di tengah semua itu, apakah seluruh masyarakat benar-benar mampu menikmati kemeriahan tersebut? Bagaimana dengan keluarga yang uang sekolah anaknya masih tertunggak? Bagaimana dengan warga yang untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari saja harus berhitung dengan cermat? Bagaimana dengan mereka yang membutuhkan biaya berobat? Bagaimana dengan keluarga yang sedang membangun rumah, membayar cicilan, atau memenuhi kebutuhan dasar lainnya? Apakah kebutuhan-kebutuhan itu harus bergeser demi sebuah hiburan? Dan lebih menyedihkan lagi, ketika iuran untuk sebuah pertunjukan mulai terasa seperti kewajiban sosial—seolah-olah warga yang tidak ikut menyumbang adalah warga yang tidak mendukung desanya.
Pada titik inilah kita perlu berhenti. Jangan sampai hiburan yang seharusnya membahagiakan justru menjadi beban bagi mereka yang tidak mampu. Dari mata telanjang, sound horeg memang terlihat indah. Masyarakat berkumpul. Jalanan ramai. Pedagang mendapatkan pembeli. UMKM bergerak. Anak-anak bersorak. Orang-orang merekam dengan telepon genggam. Media sosial penuh dengan video kemeriahan. Ekonomi berjalan. Namun sebuah fenomena sosial tidak boleh dinilai hanya dari apa yang tampak di permukaan. Ada sisi lain yang tidak selalu masuk kamera. Ada suara yang luput tidak terdokumentasikan. Ada keluhan yang tidak terdengar karena tertutup dentuman. Ada masyarakat yang memilih diam karena suaranya terlalu kecil dibandingkan suara mayoritas.
Tidak ada yang salah dengan hiburan. Tidak ada yang salah dengan musik. Tidak ada yang salah dengan masyarakat yang ingin bergembira. Tetapi barangkali, kita perlu bertanya, ketika hiburan seseorang berubah menjadi penderitaan bagi orang lain, apakah ia masih pantas disebut hiburan rakyat?
Saya pribadi menyukai musik. Saya menyukai sound. Tetapi bukan horeg. Dan ketika sound horeg semakin menjamur di Jawa Timur, khususnya di wilayah yang saya kenal, kegelisahan itu semakin tumbuh. Terlebih ketika desa yang sebelumnya teduh, tenang, dan bersahaja mulai merasa perlu ikut “menanggap” sound horeg hanya karena tidak ingin kalah gengsi dengan desa lain. Harga sewanya bisa mencapai puluhan hingga ratusan juta rupiah. Sungguh, kita sebenarnya sedang merayakan apa? Apakah kita sedang merayakan kebahagiaan? Ataukah sedang merayakan kemampuan untuk menunjukkan bahwa kita tidak kalah kaya?
Bayangkan jika dalam satu desa, setiap RT atau dusun merasa harus menghadirkan sound horeg untuk sebuah acara yang disebut sebagai karnaval budaya. Esensi dari kebudayaan itu sendiri akan menjadi suatu pertanyaan. Lalu … Apakah budaya kita sekarang adalah sound horeg? Apakah budaya harus selalu diukur dari seberapa keras suaranya? Dari seberapa besar speakernya? Dari seberapa terang lampunya? Dari seberapa banyak orang yang datang? Atau dari seberapa mahal sound yang berhasil disewa? Saya tidak sedang mengatakan bahwa semua bentuk pertunjukan budaya harus kembali menjadi sederhana dan tanpa hiburan modern. Bukan itu. Tetapi kebudayaan seharusnya memiliki jiwa. Ada nilai, identitas dan kesantunan. Ada penghormatan kepada lingkungan dan masyarakat. Jangan sampai atas nama budaya, semua hal yang dahulu kita anggap tidak pantas justru perlahan dinormalisasi. Anak-anak melihat orang dewasa berjoget dengan pakaian yang sangat minim yang disebut ‘dancer’. Perempuan dan laki-laki menjadi tontonan di tengah jalan. Tak sedikit yang meneguk minuman keras dan berjoget ria. Menjadi Tontonan. Gerakan tubuh yang dahulu dianggap tabu kini dipertontonkan secara terbuka. Anak-anak, hingga perempuan sudah membuang rasa malunya untuk berjoget ria di jalanan, dengan tubuh yang seksi disawer di kanan kiri? Anak-anak dengan telanjang melihat itu semua, seolah hal itu menjadi tontonan yang lazim untuk anak-anak? Anak-anak kecil menyaksikan semuanya dengan mata polos, tanpa memahami apakah yang mereka lihat layak menjadi bagian dari pendidikan sosial mereka. Dulu, tontonan serupa berada di ruang tertutup. Ada batas usia. Ada pintu yang memisahkan anak-anak dari dunia orang dewasa. Sekarang, batas itu seakan runtuh. Budaya timur kita rasa-rasanya memang telah bergeser. Semua hal yang dulu dianggap tabu, kini harus jadi hal yang ‘wajar’ demi melanggengkan kata ‘hiburan rakyat’. Semua hadir di jalan, bisa melihat, bisa merekam, bisa menyebarkan. Dan kemudian kita menyebutnya hiburan rakyat.
Barangkali budaya kita memang sedang berubah. Tetapi pertanyaannya bukan sekadar apakah budaya berubah. Tapi ke arah mana kita sedang berubah? Sound horeg dengan biaya fantastis itu kadang hanya berlangsung sehari. Dua puluh empat jam. Setelah itu selesai. Lampu dimatikan. Sound dipindahkan. Kerumunan bubar. Tetapi dampaknya? Bisa lebih panjang dari 24 jam. Ada polusi suara dan polusi cahaya. Kunang-kunang tak punya ekkosistem yang nyaman. Alam mulai ternoda keseimbangannya. Ada kemungkinan kerusakan. Ada masyarakat yang kehilangan waktu istirahat. Dan ada tubuh manusia yang mungkin menerima dampak yang tidak langsung terasa.
Ada sampah juga, jangan lupa. Kalau sebuah pertunjukan berlangsung sepanjang tiga kilometer, maka jangan heran apabila sampah pun mengikuti sepanjang jalan tersebut. Memang, harus diakui secara adil, tidak semua panitia abai. Ada panitia yang menyiapkan anggaran kebersihan. Malam pertunjukan selesai, pagi harinya jalanan sudah kembali bersih. Tetapi, uang siapa yang membayar semua itu? Sering kali, kembali kepada uang masyarakat. Bahkan ketika terdapat denda akibat persoalan sampah, jumlahnya bisa mencapai puluhan juta rupiah.
Ironis.
Kita mengeluarkan puluhan hingga ratusan juta untuk mendatangkan hiburan, lalu kembali mengeluarkan jutaan untuk membersihkan akibat dari hiburan itu.
Saya pernah datang ke rumah seorang teman. Kebetulan di sekitar tempat itu sedang digelar sound horeg. Saya kemudian pamit menuju kamar mandi. Saat berada di dalam kamar mandi, tiba-tiba suara gemuruh itu terasa begitu dekat. Bukan hanya terdengar. Seng bergemuruh. Asbes dan dinding kamar mandi bergetar. Lantai seperti kehilangan ketenangannya. Dan kemudian terdengar suara benda-benda jatuh. Genteng berjatuhan. Rumah teman saya mengalami kerusakan dan retak akibat getaran sound horeg. Saya tidak tahu persis berapa besar kerugian yang harus ditanggung. Saya hanya tahu bahwa rumah adalah tempat seseorang merasa paling aman. Ketika rumah itu retak, ada rasa nyaman yang ikut retak.
Memang, ada informasi bahwa rumah yang terdampak akan mendapatkan kompensasi dari panitia. Tetapi apakah kompensasi selalu sebanding dengan kerusakan? Apakah uang mampu mengembalikan rumah seperti semula? Apakah uang mampu menghapus rasa takut setiap kali mendengar suara keras? Dan bagaimana dengan proses memperbaiki rumah yang membutuhkan tenaga, waktu, dan pikiran?
Tidak semua kerugian bisa dihitung dengan rupiah.
Di beberapa desa, bahkan ada persoalan yang lebih mengkhawatirkan. Warga diminta menandatangani surat kesepakatan untuk tidak menuntut apabila terjadi kerusakan rumah akibat getaran sound horeg. Dalihnya sederhana, “sebagian besar masyarakat sudah sepakat.” Tetapi sejak kapan jumlah suara mayoritas menjadi alasan untuk menghilangkan hak seseorang yang terdampak? Suara yang menolak pun tak akan terdengar.
Demokrasi memang mengenal suara terbanyak. Namun keadilan seharusnya tetap memberi ruang bagi suara yang paling kecil. Sebab bisa jadi satu rumah yang retak adalah rumah seorang janda. Bisa jadi rumah itu dihuni lansia. Bisa jadi di sana ada keluarga miskin yang tidak memiliki biaya untuk memperbaiki kerusakan. Dan suara mereka mungkin kalah keras dibandingkan dentuman speaker.
Ada ribuan orang yang mungkin malam itu hanya ingin tidur. Ada ibu yang sedang menidurkan bayinya. Ada seorang ayah yang harus bangun pukul empat pagi untuk bekerja. Ada anak yang sedang mempersiapkan ujian. Ada orang sakit yang membutuhkan ketenangan. Ada lansia yang tubuhnya tidak lagi mampu menerima suara keras. Mereka mungkin tidak datang ke arena, tidak menari, tidak merekam, tidak berteriak.Tetapi mereka juga bagian dari masyarakat. Bukankah mereka juga memiliki hak untuk dihormati?
Bahkan orang yang datang menikmati sound horeg pun sebenarnya tidak sepenuhnya terbebas dari risiko. Suara yang sangat keras bukan sesuatu yang seharusnya dianggap sepele. Jangan sampai orang datang sebagai penikmat, tetapi pulang sebagai korban. Sebab ketika telinga telah kehilangan kemampuannya mendengar, uang tiket, uang iuran, dan kemeriahan satu malam tidak akan mampu mengembalikannya seperti semula. Yang menjadi penikmat pun juga tak akan luput dari bahaya, sebab frekuensi yang tak masuk akan itu bisa jadi menyerang telinga-telinga para pendengar. Alih-alih jadi penikmat, malah jadi korban, dan itu sudah banyak terjadi
Dari seluruh fenomenasi Sound Horeg ini, ada satu hal yang membuat saya jauh lebih khawatir. Air.
Mata air. Sumber kehidupan.
Ketika Desa Wotanmas Jedong juga akan menggelar sound horeg, muncul rasa sedih sekaligus cemas. Bukan karena saya ingin menghalangi masyarakat untuk bergembira. Tetapi karena desa ini memiliki sesuatu yang jauh lebih berharga daripada sebuah pertunjukan, yakni sumber air kehidupan. Sebagian masyarakat menggantungkan kebutuhan airnya pada goa yang berada di sisi timur Candi Jedong. Goa purba yang memiliki nilai sejarah dan masuk kawasan Sima, dan disebut dalam berbagai catatan sejarah serta prasasti. Di tempat itulah air dimanfaatkan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Akses memasuki goa tersebut sangat sempit. Bahkan tidak semua orang mampu menjangkaunya. Bagian dalamnya bercabang dan memanjang jauh ke dalam tanah. Hingga kini, belum semua bagian goa mampu diketahui secara pasti.
Lalu saya membayangkan sesuatu yang membuat hati saya tidak tenang. Bagaimana jika getaran sound horeg yang begitu kuat berlangsung selama lebih dari 12 jam di sekitar sumber mata air? Bagaimana jika getaran tersebut memengaruhi struktur tanah atau bagian tertentu dari goa? Bagaimana jika terjadi longsoran di dalam? Bagaimana jika jalur air tertutup? Siapa yang akan masuk ke dalamnya? Siapa yang sanggup mencari titik sumbatannya? Siapa yang mampu membongkar reruntuhan jauh di bawah tanah?
Dan jika air berhenti mengalir, siapa yang akan menanggung akibatnya? Tentu saja bukan pengusaha sound, apalagi panitia. Tetapi masyarakat. Ibu-ibu. Anak-anak. Petani. Orang tua. Generasi yang bahkan belum lahir. Ketika sumber air rusak, semua akan terkena dampaknya.
Saya teringat cerita Mbak Fa dari Jaga Semesta, tentang salah satu goa di Kediri yang dikabarkan mengalami penyumbatan akibat getaran sound horeg. Masyarakat tidak mampu menemukan titik sumbatannya karena reruntuhan berada jauh di dalam goa. Sumber air mereka akhirnya tertutup. Saya tidak berani membayangkan jika sesuatu yang serupa terjadi di Wotanmas Jedong. Sebab ketika air telah hilang, penyesalan tidak akan mampu mengembalikannya. Kita bisa membeli speaker baru. Kita bisa menyewa sound yang lebih besar. Kita bisa menggelar pertunjukan lagi tahun depan.
Tetapi jika mata air mati?
Tidak semudah itu menggantinya. Karena itu, bagi saya, persoalan sound horeg tidak sesederhana pro atau kontra. Bukan sekadar suka atau tidak suka. Bukan pula sekadar menghibur atau mengganggu. Ini tentang batas. Tentang hak, tanggung jawab, lingkungan, kesehatan, kebudayaan, ekonomi. Dan yang paling penting tentang manusia.
Saya tidak ingin menutup mata terhadap manfaat ekonomi yang muncul. Tetapi manfaat ekonomi tidak boleh menjadi satu-satunya alasan untuk mengabaikan dampak sosial dan lingkungan. Sebab ekonomi yang tumbuh dengan mengorbankan kesehatan masyarakat bukanlah kemajuan yang utuh. Hiburan yang membahagiakan sebagian orang tetapi membuat sebagian lainnya tidak bisa tidur juga perlu dievaluasi. Apalagi sampai berdampak terhadap lingkungan dan kebutuhan vital masyarakat. Dan sebuah tradisi tidak otomatis menjadi benar hanya karena dilakukan berulang-ulang..
Lalu sampai kapan sound horeg akan terus digandrungi? Saya tidak tahu. Mungkin selama masyarakat masih menganggap semakin keras berarti semakin hebat. Mungkin selama gengsi masih lebih tinggi daripada kepedulian. Mungkin selama suara mayoritas masih digunakan untuk membungkam mereka yang terdampak. Dan mungkin selama kita masih menganggap sesuatu yang dilakukan berkali-kali pasti layak disebut wajar.
Entahlah. Pemerintah rupanya belum terlalu serius melihat ini, dan belum menjadikan ini semua jadi masalah yang perlu mendapat perhatian khusus. Tapi kita tidak boleh terus melazimkan hal-hal yang tak patut menjadi sebuah kewajaran. Karena dunia ini rusak akibat sesuatu yang salah telah dibiarkan terus menerus dan dianggap sebagai suatu kewajaran, padahal sebetulnya itu adalah alarm bahaya yang harus mendapatkan perhatian.
Tidak semua yang menjadi kebiasaan pantas dilestarikan.Tidak semua yang disebut hiburan harus diterima tanpa pertanyaan. Kita harus memastikan bahwa kegembiraan tidak dibangun di atas penderitaan orang lain. Kita ingin anak-anak tetap memiliki ruang untuk tumbuh dengan nilai dan batas yang sehat. Sebab yang kita wariskan kepada anak cucu bukanlah seberapa besar sound yang pernah kita datangkan. Bukan seberapa mahal pertunjukan yang pernah kita selenggarakan. Bukan pula seberapa meriah jalan desa pernah dipenuhi manusia. Melainkan, setelah kita pergi apakah mereka masih bisa tidur dengan tenang, menikmati lingkungan yang sehat, melihat budaya yang bermartabat, dan minum dari mata air yang tetap mengalir.
Jangan sampai kita terlalu sibuk mengejar kemeriahan satu malam, lalu tanpa sadar sedang mempertaruhkan kehidupan bertahun-tahun. Jangan sampai demi gengsi sesaat, kita kehilangan sesuatu yang tidak bisa dibeli kembali. Karena dunia tidak selalu rusak oleh sesuatu yang besar. Kadang-kadang, dunia rusak karena sesuatu yang salah dibiarkan berulang-ulang, kemudian dianggap biasa.
Hari ini mungkin hanya suara. Besok mungkin keretakan. Lusa mungkin lingkungan. Dan suatu hari nanti, mungkin kita baru sadar bahwa yang selama ini kita sebut hiburan ternyata telah menjadi alarm bahaya yang terlalu lama kita abaikan. Maka sebelum suara itu semakin keras, barangkali kita perlu belajar mendengarkan suara yang jauh lebih tenang, yakni suara hati.
Semua manusia ingin hidup tenang. Dan ada suara-suara yang justru muncul di kala kita dalam keheningan.